Senin, 20 Januari 2020

Akhir Kisah sebuah Benteng

Aku tidak akan pernah tahu seperti apa masa depan menuntutku berlabuh

Pun aku tidak pernah menyangka semua yang aku usahakan di masa lalu tiba-tiba tercerai dan lebur

Semua yang aku usahakan

Semua yang aku pertahankan

Berakhir dalam sekejap mata

Tidak ada yang tahu, seyogyanya takdir akan membawaku ke titik ini -- cepat atau lambat; siap atau tidak.

Satu titik di mana aku harus melihat ke bawah; dihancurkan atau tidak?

Satu titik yang menuntutku untuk lepas dari ekspektasiku, lepas dari benteng kokoh yang sudah kubangun dan kupersiapkan bertahun-tahun

Satu titik yang memaksaku untuk kembali ke dasar

Jatuh lagi

Terjerembab

Terluka lagi

Menangis lagi

Satu titik yang mengajarkanku: setinggi apapun benteng yang aku bangun, jika pondasinya rapuh, akan hancur juga

Benteng itu pernah menjadi jawaban atas doaku, pun sampai detik ini akan terus jadi jawaban

Jawaban atas doaku yang menuntut penghiburan, di kala lelah dan perasaan terabaikan

Aku tidak bisa berbohong lagi; aku sedih, aku terluka. Namun dibalik hancurnya benteng ini, aku yakin ada pelajaran yang bisa kuambil

Dindingnya yang rubuh telah melepaskan dua merpati yang awalnya terkurung,
Dua jiwa yang menuntut kebebasan, namun terabaikan. Dua jiwa yang berhak untuk bahagia dengan jalannya masing-masing.

Selama ini aku egois dan mengurung merpati itu, namanya Pilihan dan Harapan. Aku mengurung mereka berdua dengan harapan mereka tidak meninggalkanku.

Tapi aku salah, semakin erat aku menjaganya, semakin hilang dia.

Kini Pilihan dan Harapan telah terbang menuju takdirnya. Aku hanya bisa berdoa mereka menemukan rumah. Rumah yang tidak akan menuntut; rumah yang nyaman; rumah yang tulus; dan rumah yang menerima.

Tidak seperti bentengku

Jumat, 23 Agustus 2019

Totalitas

Menjadi pribadi yang "all-out" adalah suatu tantangan untukku. Telah lama aku terkungkung di dalam cangkang ketakutan- takut memberikan yang terbaik, takut berbuat sesuai kata hatiku dan ketakutan-ketakutan lain.

Sebelum ini aku seakan melemparkannya kepada Tuhan- ah ada Tuhan, mengapa aku takut? Kemudian secara tidak langsung menyakiti diriku dengan berkata: imanmu kecil banget, Hil. Ini kan sudah jadi issue sejak dulu, mengapa tidak tuntas? Mengapa masih saja ada? Tapi aku sadar Tuhan tidak ingin aku menyalahkan diri.

Semenjak aku merenung lebih dalam tentang ketakutan-ketakutanku, dan berusaha mencari akar masalahnya, bertemulah aku dengan si hati kecil yang selama ini mencoba jujur, namun kupatahkan dengan ego dan "ke-aku-anku."

Dia berkata: aku takut tersakiti, aku takut segala hal yang kulakukan sia-sia. Selama ini aku berusaha mengatakannya,tapi kamu selalu saja membantahnya dan berpura-pura tidak mendengarku. Merasa dirimu kuat, merasa dirimu bisa berbuat sesuatu, dan menumpuk ketakutan tanpa menyelesaikannya. Sekarang aku datang dan kamu sudah tidak bisa mengelak- akhirnya kamu mendengarkanku juga!

Benar. Selama ini aku menutupi ketakutanku, berusaha mengeraskan hati dan memakai kaca mata kuda, seolah kegagalan bukanlah opsi untukku. Itulah sebabnya aku selalu bermain aman dan kurang mengeluarkan sisi terbaikku.
Kini aku mengakui, aku takut tersakiti. Siapa yang tidak takut, coba? Aku berusaha menerima diriku yang rapuh, sisiku yang sejak lama aku pendam, dan memilih untuk menyelesaikannya.

Mengapa kamu takut? Tidak apa, kita akan jalani semua ini bersama. Kegagalan adalah opsi semua orang, kamu tidak bisa serta-merta menghilangkannya. Menjadi gagalah, agar kamu tahu nikmatnya berhasil. Lakukanlah segala hal dengan penuh totalitas- setidaknya kamu sudah melakukan yang terbaik yang kamu bisa. Berbuat dan berkatalah dengan jujur- akui kelemahanmu, akui kekurang-pengalamanmu sambil terus berkembang dan mempelajari hal yang baru. Tidak apa, semua orang pernah gagal, semua orang pernah terluka. Lebih penting lakukan yang terbaik dengan sungguh-sungguh, berbuat baik tanpa pamrih, menyelesaikan tugas dengan baik dan penuhilah ekspektasimu. Selagi muda cobalah tantangan-tantangan baru, keluar saja dari zona nyaman.

Hari ini dan detik ini, aku memperbaiki semuanya. Merangkul sisi hatiku yang selama ini aku abaikan, mengajaknya untuk menyelesaikan tantangan-tantangan menarik yang muncul di perjalanan hidupku. Membujuknya all-out dan  optimis. Menjadi pribadi antusias yang tidak takut gagal, toh yang penting caraku bangkit, kan, bukan gagalnya?

Pengalamanku mengajarkan, menjadi orang yg bersikap "minimalis" (tidak mau rugi, tidak berkomitmen, dan tidak bersungguh-sungguh) akan meninggalkan penyesalan di kemudian hari. Rasa sesal karena melakukan sesuatu di bawah potensiku yang sebenarnya, rasa sesal karena tidak menjadi berkat untuk sesama. Dan percayalah kawan, menyesal itu tidak enak. Lebih baik dari sekarang aku melakukannya dengan sungguh-sungguh dan all-out. Menjadi pelita untuk lingkunganku, memberikan kontribusi untuk pekerjaanku, karena aku yakin, berkat yang diberikan Tuhan akan menjadi sia-sia jika tidak kita salurkan untuk sesama.


Minggu, 21 April 2019

Penyelamat dalam Sunyi

Pergolakan yang  muncul di pikiranku membawa perenungan panjang. Butuh waktu untuk bisa memahami maksud dari cuplikan cerita yang terjadi. Terkadang aku sudah tahu jawabannya, setiap solusi dari persoalan yang muncul ke permukaan, namun alangkah sulit untuk menetapkan hati dan mendengarkan bisikan hati.
Aku perlu duduk diam, mengimani setiap intuisi yang perlahan muncul, menenangkan setiap desir hati yang bergejolak.
Ketenangan adalah sahabatku, menjauhkanku dari bising yang mengoyak iman. Keyakinan akan suatu perkara memang tak mudah kudapatkan, namun setelah yakin itu kudapat, tak ada yang bisa goyahkanku. Tuhan, izinkanlah aku untuk sekokoh batu karang.. setegap pemecah ombak... dan setegar pegunungan.
Biarlah makna perenunganku menjadi rahasiaku, biarlah kebijakan  menaungiku dalam diam. Biarlah kesulitan menguatkanku dan biarlah sunyi menjadi sahabatku. Biarlah aku menemukan suaraMu yang menggema diantara bisingnya dunia. Biarlah aku terus mengimaniMu, sang Tenang dalam badai. Sang Terang dalam gelap. Sang Alfa dan Omega, awal dan akhir. Sang Empunya kehidupan, Sang Pembawa Damai dalam kesunyian. Tuhanku, Penyelamatku.

Rabu, 12 Desember 2018

Berjuang

Malam ini aku terbangun dengan jantung yang berdebar-debar. Keringat bercucuran dan nafas tersengal-sengal. Aku baru saja berteriak dalam tidurku. Ini kejadian kedua kali yang aku alami dalam 2 tahun. Rasanya aneh bangun dalam ketakutan dan juga berteriak sebelum bangun. Kecewa rasanya menyadari bahwa teriakanmu mengganggu tetangga kamarmu, sedih rasanya mengetahui bahwa kamu takut untuk tidur. Takut, jika bayangan hitam itu muncul lagi. Aku tidak percaya takhayul, aku yakin kejadian ini hanyalah manifestasi dari emosi-emosi negatif yang selama ini aku pendam. Setiap hal pasti punya penyebab rasional yang menyertainya. Emosi negatif itu mungkin  muncul semenjak aku memutuskan untuk tidak sebebas dulu mengumbar perasaanku. Menurutku, perasaan adalah hal privasi yang tidak bisa sembarangan aku buka, bahkan pada orang-orang terdekatku. Ya, sekali lagi itu hanyalah asumsi. Toh aku tidak boleh menyimpulkan terlalu cepat. Aku berharap ini adalah kejadian yang terakhir, aku tidak mau terbangun dengan nafas terengal-engal dan teriakan lagi, karena berhadapan dengan emosi negatif dan perasaan takut yang berusaha aku pendam itu menggelikan. Kini, aku terpaksa menghadapi hal yang selama ini aku hindari; diriku versi jelek, tidak seperti versi baik dan berani yang selama ini aku tunjukkan pada orang-orang. Diriku versi lemah, yang ketakutan. Kejadian ini membuatku yakin bahwa aku manusia yang penuh kelemahan dan ketakutan; aku tidak perlu jadi superman yang tidak pernah takut. Ketakutan inilah yang membuatku merasa masih jadi manusia.
Aku harap aku tidak perlu berlari dan berteriak lagi dalam menghadapi ketakutanku. Aku harap aku bisa berjuang menghadapi gangguan tidur ini. Satu hal yang aku tahu, aku tidak boleh tidur dini hari lagi dalam keadaan capek dan tidak nyaman, karena bayangan hitam itu; ketakutan dan emosi negatifku, selalu muncul di saat aku lengah. Aku harus lebih rileks dan mengendalikan emosiku, mencegahnya membludak dan merugikanku. Akulah pahlawan yang bisa menolong diriku sendiri, aku tidak boleh berhenti untuk berjuang.

Senin, 08 Oktober 2018

PERSPEKTIF

Seekor burung gelatik bertengger di atas ranting, melihat keliling lalu menetapkan pandang di sebuah danau biru.
Kupu-kupu di sudut utara melihatnya, lalu ikut bertengger di sisi burung gelatik hijau.
"Apa yang kau lihat?" tanya kupu bercorak pelangi pada burung di sampingnya.
"Pemandangan," jawab burung singkat.
"Ah, apa indahnya?" tanya kupu sambil meletakkan pandang ke area sebelah danau.
"Masa seperti itu kurang indah?" jawab burung kebingungan.
"Lihat deh, tidak ada binatang yang mau mampir ke sana. Paling hanya binatang pemangsa yang betah tinggal di sana," timpal kupu-kupu.
"Pemandangan secantik itu, masak kamu bilang buruk?" balas gelatik.
"Coba lihat tanahnya. Gambut, tidak ada tumbuhan yang bisa tumbuh di situ. Seleramu kadang aneh ya, burung!" seru kupu-kupu.
Mendengar perkataan kupu-kupu, si gelatik tersenyum kecil.
"Dari tadi aku memandangi danau," jawab gelatik.
"Oh, aku kira kamu memandangi rawa-rawa," balas kupu-kupu.
"Arah pandangnya sama, tapi yang dilihat ternyata beda," kata gelatik sambil mengepakkan sayapnya lalu tertawa kecil. Ia beranjak dari ranting tempatnya bertengger dan berkata, "Sudah ah, kupu-kupu.. kamu menggangguku bersantai saja,"

**
Terkadang kita mengomentari suatu hal dengan perspektif yang kita miliki, entah itu benar atau salah. Bahkan tak jarang, tanpa dimintai pendapatpun kita memberi komentar yang negatif. Kita bertindak layaknya kupu-kupu yang mengasumsikan sesuatu tanpa konfirmasi, "Yang penting aku yakin pada pendapatku, terserah kamu bilang apa,"
Tak jarang munculnya pendapat kita didasari oleh egoisme personal, tanpa peduli dengan kepentingan bersama. Sering pula kata-kata yang kita lontarkan saat mengomentari sesuatu, didasari oleh sentimen personal, "Aku ga peduli, yang penting kata-kataku berseberangan sama pendapatnya,"
Atau bisa jadi, komentar kita tidak didasari oleh fakta-fakta dan hanya didasarkan oleh asumsi, "Aku enggak tahu sih, kata-kataku ini benar atau enggak. Cuma aku tetep ngomong biar kelihatan keren aja,"
Hal-hal yang kita lontarkan, semuanya bergantung pada perspektif yang kita gunakan. Lalu perspektif mana yang benar? Tentunya, untuk menjadi seseorang yang bijak, kita tidak hanya bergantung pada satu perspektif. Dibutuhkan perspektif-perspektif lain yang saling menopang untuk menyusun satu gambaran luas mengenai suatu peristiwa. Dibutuhkan pula banyak pandangan untuk dapat menghasilkan pendapat yang mengakomodasi banyak pihak, sehingga menghasilkan keputusan yang paling baik. Keputusan yang kita yakini adalah baik jika dibandingkan dengan pilihan lain.
Jadi, masih menganggap bahwa perspektifmu yang paling hebat?

Selasa, 31 Juli 2018

Kini Aku Tahu

Di usiaku yang ke- 22,

kini aku tahu
Rasanya iri dengki

Rasanya memaafkan kesalahan orang lain

Rasanya merelakan masa lalu yang pahit

Rasanya menerima kehidupan yang awalnya sulit

Rasanya dimaafkan

Rasanya menjadi bahan pergunjingan

Rasanya mempertahankan prinsip di hadapan orang banyak

Rasanya puas akan kerja keras yang terbayar

Rasanya sadar akan kesalahan

Di usiaku yang mulai dewasa ini,
kini aku tahu

Bahwa tidak semua hal yang kita inginkan terjadi

Bahwa kasih mengalahkan dengki

Bahwa ada kekuatan Ilahi

Bahwa kehidupan butuh sikap realistis

Bahwa idealisme sangat berarti

Bahwa prinsip adalah kunci

Hati dan pikiranku
Kini tahu

Usaha kadang tidak berhasil

Efisiensi harus direalisasi

Manusia saling butuh satu sama lain

Sabar adalah satu bentuk pengendalian diri

Kini aku tahu...

Tingkah lakuku adalah pilihanku

Perbuatanku adalah tanggung jawabku

Akulah pemegang kontrol penuh atas tindakanku

Kamis, 17 Mei 2018

Negosiasi

Hai! Sudah lama ya tidak berjumpa dengan si Sunflower yang happy ini a.k.a me...
If we talked about my life.. yeah it's been wonderful. Aku memiliki beberapa pengalaman yang menurutku langka dan berkesan. Oke, akan aku coba merangkumnya dalam kalimat-kalimat yang selanjutnya akan kalian baca. Aku mulai dari yang sequence waktunya paling kini sampai paling lampau ya.

First....
Aku sudah unofficially S.Farm!!! Pendadaranku terlaksana ditanggal 3 April 2018 (untung bukan 1 April ya, nanti aku ngira pertanyaan dosennya bercanda). I'm so happy and proud of myself.... Setelah balada datang jam 6.30 pulang jam 16.30 terlewati, setelah menghadapi pasang surut sebagai seorang peneliti ekstrak kulit buah manggis... Rencananya aku bakal wisuda 23 Mei 2018 di Grha Sabha, doakan semoga lancarđź’—

Second....
Si Hilda yang sensitif ini mulai mengembangkan sayap ke-organisasi-an. Aku diamanahi untuk jadi Koordinator Eksternal F*rmasi Cup 2016. Suatu hal yang baru mengingat di SMP jadi ketua osis Immac*lata dan di SMA jadi koordinator lapangan MPK P*dmanaba. Kenapa baru? Karena... aku belum pernah berurusan dengan uang sebelumnya *cry* Di event ini aku terbukakan matanya. Terbukakan means bukan aku yang membuka, tapi keadaan yang membuatnya terbuka. 
Well, ternyata ada satu seni yang belum pernah aku pelajari sebelumnya... Ya, negosiasi. Kalian pembaca mungkin bertanya-tanya, katanya dari SMP udah aktif, kok ga pernah nego? Hmm, kalau boleh jujur, aku sama sekali buta soal nego. Aku pikir negosiasi itu sempit, seperti tawar-menawar harga. Ternyata aku salah, teman-temanku... Negosiasi yang baru saja aku pelajari adalah bagaimana kita untung tapi lawan bicara kita ga sadar kalau dia rugi. Seninya di situ guys, dan aku pribadi susah banget untuk melakukannya. Ternyata itu penting lho. Negosiasi adalah cara kita untuk menyampaikan maksud kita kepada orang lain, agar tujuan kita terpenuhi. Si orang lain ini harus mendukung tujuan kita juga guys hehe, ya seperti membujuk lawan jenis untuk mau pacaran ma kita lah (lho!)
Aku sebenernya juga belum punya tips and trick gimana cara negosiasi yang baik. Cuma emang negosiasi yang paling enak adalah saat kita sama-sama di level yang sama, emang enak sih mendominasi, tapi ga enak didominasi. So, buatlah lawan bicara kita senyaman mungkin (kita juga harus nyaman ma diri kita sendiri sebelumnya) alias kudu PD, jangan biarkan lawan mendominasi kita. Terkadang saat kita membuat nyaman lawan bicara, itulah saat kita bisa melakukan negosiasi dengan ciamik. So, gimana pengalaman negosiasimu? Udah pernah mengalami negosiasi yang menguntungkan, belum?

Jumat, 28 April 2017

A-normali

Tombol keyboard hitam yang memanggilku kini menang. Ya, menang. Mereka membuatku kembali. Sebelum ini aku banyak terdiam, tak terlalu jelas apa yang kulakukan. Makan, mandi, membaca catatan kuliah, berkumpul bersama kawanan. Lima puluh persen menatap layar handphone, mungkin; menjadikanku tidak produktif. Aku ingin.. banyak hal. Namun yang kulakukan? Nol besar.
Aku ingin berdiri di atas kakiku, namun selama ini aku memijak sebuah bayangan.
Aku ingin menjadi pohon yang tumbuh dan berbuah, namun ternyata mandul
Aku ingin..... berkata sesungguhnya aku benci mencari alasan atas ketidakberhasilanku.

Aku gagal, karena aku. Aku berhasil juga karenaku. Kuakui ada kekuatan yang jauh lebih besar menyelimutiku namun kuyakin Ia baik. Ia menjagaku.

Selama ini aku hidup dalam ketakutan bahwa masa depan tak sebaik yang kuingin. Masa ini menjenuh dan berjalan lambat, menyisakan aku yang terdiam dan bertanya. Aku bingung, siapa aku? Cukup kuatkah aku untuk menjadi baik? Selentingan sana sini mengoyak dan memincangkan, apalagi keluar dari mulut yang tersayang. Adakah yang bisa menjelaskan, dari sisi mana sayang itu mengoyak?
"Kamu mengecewakan,"
"Kamu bisa lebih baik dari ini"
Kamu ini kamu itu
Memangnya kalian orang terbaik di sini? Kritiklah aku sesukanya, aku tidak makan dari mulut kalian! Ingin aku berkata seperti itu. Namun tidak bisa, kalian berharga untukku. Cinta yang membuat aku lemah, akankah cinta sebaliknya? Kapan cinta menguatkan, ya, cinta Ibuku menguatkan. Aku tidak akan mencintai orang yang melemahkanku, kuingin menjadi abnormal yang membuat kalian menganga.
Diriku yang dulu, aku tahu kamu akan kembali. Seperti biasa, kutetap menunggumu sampai hitungan ke sepuluh; dan kuyakin kamu kembali, membantuku mengubah dunia.

Hilang

Senyap
Lenyap
Ke mana tubuh ini akan membawaku
Menembus angin yang mulai membeku

Makanan terasa anyap
Tak peduli nafas yang mulai pengap
Di mana kamu, yang dulu?
Yang muncul dan mencegah jalan buntu

Aku butuh kamu, Hilda yang yang tegap
Yang berdiri kokoh saat aku terhenyak
Aku butuh kamu, diri ini mulai rapuh
Ke mana kamu pergi, setelah masa-masa sulit berlalu

Diriku merindu
Si pemilik hati pilu
Setengah diriku menunduk
Mencari diriku yang dulu


Yogyakarta, 28/4/17
Sang pujangga mulai menulis lagi

Selasa, 21 Juni 2016

Do You Ever Feel...

Do you ever feel like a plastic bag
Drifting through the wind, wanting to start again?
Do you ever feel, feel so paper thin
Like a house of cards, one blow from caving in?



Sepenggal lirik dari lagu firework milik katy perry
Sometimes aku merasa seperti tas kresek (jelek banget ya kalau di translate...) ya, ringan.. ga berisi apa-apa.. gerak pun karena angin yang meniup. Tidak punya kekuatan untuk melawan arus.
Kamu percaya kamu plastic bag, atau orang lain yang mengatakannya?
Sometimes people around you try to smack  your dream, push you to your lowest level of life and leave you when you got nothing. So, what will you do? Give up? Or keep your chin up? 


Bicara tentang tas kresek,
Pernah berpikir ga sih kalau tas kresek itu material paling basic dari suatu plastik? Bentuk paling sederhana yang bisa dibuat dari plastik.
That means.. sebetulnya plastic back yang dimaksud itu bisa berpotensi dirubah jadi suatu mahakarya yang maybe beyond expectation.

I believe it. God makes us alive for a proper destination. Don't worry about people, they can bleed. You must pay attention to yourself, bisa kah kamu think bigger dan merubah plastic bag menjadi sebuah mahakarya? 

I've a story. 
Dua kembar identik dibesarkan di dua lingkungan yang berbeda. Kembar pertama dibesarkan di lingkungan yang selalu memuji hasil karyanya, alhasil ia menjadi seniman pahat kayu tersohor.
Kembar kedua dibesarkan di lingkungan yang kurang menghargai seni. Ia diarahkan menjadi sesuatu yang lebih scientific, dipaksa menempuh pendidikan konvensional membuatnya terpaksa drop out.

See? Bagaimana pandangan orang merubah hidup kita. Tapi coba kita balik dengan kalimat: bagaimana dirimu sendiri, secara sadar, membiarkan orang lain membuatmu percaya bahwa kamu tidak lebih dari plastic bag.

We have belief we remain to believe. Kita punya free will untuk mempercayai apapun yang kita mau. So, mulai dari sekarang latihlah dirimu untuk percaya bahwa hidupmu adalah bagian dari mahakarya Tuhan dan diciptakan untuk tujuan yang baik. You are undoubtedly special, dan tidak ada orang yang dapat mengatakan sebaliknya :)


Kamis, 19 November 2015

Pekat

Minggu ini minggu yang berat untukku. entah mengapa semua berjalan lambat, seperti alunan fur elise dari beethoven. Jika kalian pernah mendengarnya, pasti akan paham dengan maksudku. Lambat, tapi mencekam. 
Ingin keluar aku dari jeratnya, namun kubertahan. Berakhir di sinilah aku, berjalan walau terseok di tajamnya aspal kehidupan.

Siang itu, seperti biasa aku masih terduduk di kursi bagian belakang. Tertunduk, mencatat melodi-melodi indah yang dialunkan. Yang lain sibuk bercanda tawa berbarengan, tanpa aku. Di situlah perasaan ini mulai menyeruak. Hitam, pekat, merasuk mulai dari tengkuk hingga ke ubun-ubun. Gelap, sendirian. Tak ada yang sudi tuk jadi percikan, warna-warna mulai memudar, meninggalkanku dalam kepekatan. Aku sendirian, namun kucoba abaikan semua. Dan di sinilah aku, masih mencatat melodi-melodi indah yang dialunkan.

Kamis, 23 April 2015

Sekelumit cerita

Rasa sayang.
Buatku, menyayangi seseorang bukanlah hal yang mudah. Memang aku gampang terkagum akan pesona seseorang, aku mudah menyukai kebaikan seseorang. Namun untuk perasaan, adalah hal yang sulit untuk membuka diri.
Menyayangi adalah suatu kebahagiaan, namun aku sadar bahwa siap menyayangi berarti siap kehilangan. Siap merelakan.
Banyak sekali keraguan di hidupku, dan aku sadar aku terlampau tua untuk dinasihati terus menerus.
Aku menyayangi seseorang yang tidak akan mungkin menjadi bagian di hidupku. Seseorang yang tidak mungkin jadi nahkoda untuk bahtera hidupku. Aku menyayanginya, aku ingin membuatnya menjadi lebih baik. Aku ingin hidupku berguna untuknya. Namun sayang, keraguan mengalahkan semuanya. Aku berhenti mengejar karena kutahu, aku memperjuangkan sesuatu yang tidak memiliki masa depan. Aku memperjuangkan sesuatu yang malah akan membuatku jatuh pada kebimbangan yang lebih dalam.
Dan aku tahu, bahwa merelakan lebih sulit dibanding mengejar. Sekali lagi; Merelakan itu sulit. Namun aku berusaha mencari mana dari kejadian ini, mencari apa yang ingin Tuhan sampaikan padaku. Karena aku tahu, Tuhan punya sesuatu yang indah dibalik ini. Tuhan ingin aku belajar sesuatu dari peristiwa ini. Tuhan mempertemukan kita bukan tanpa alasan. Dan aku harus mencari alasannya....

Rabu, 31 Desember 2014

2015

2014 is being so worderful for me and I praise the Lord for giving me strength to pass obstacles behind. My life is not perfect, neither like that in reality, but I know that something's perfect when you believe on it.
One year makes a different person's waking up in me, like there's inner goddess slept so long and now she's waking up. I want to be someone rich, beauty, smart but kind. I want to be anything. I want to be brave, lovely and cheerful. Me in 2014 was someone with vague path, and now I have a passion to be something undefeated. I know I have that right to be happy, you too, folks. So... my general resolution in 2015 is to be happy and lovely ;)

Senin, 14 Juli 2014

My Way- Frank Sinatra, A Tribute to My Best Man

When I was child I'm sure my dad ever sang this song for me... So, to remember him and his great voice I always play this song. I love you dad, thanks for giving me such a beautiful memory. I'm glad you've been there, in my past, in my life. Please, pray for us: me, mom and Brian so we can live this life happily. I don't know when, but let me assure you, God will unite us in a wonderful place called Heaven. Rest in Peace, dad... I love you.

Sabtu, 28 Juni 2014

Lelaki Tengah Malam, sebuah cerpen

Malam datang, merasuki tiap jengkal cahaya yang masih meraung, tak mau pergi. Aku datang, terduduk; setengah sadar. Kupandangi lalu lalang; orang-orang bergerak ke sana-ke mari, berpesta dalam remang cahaya pendar, ada yang menari, saling menatap. Pasangan muda melintas; pria jangkung dan wanita kecil, dan aku pun berteriak: timpang! Kuhirup oksigen lekat-lekat, udara semacam menyublim dan ruangan menyesak, kepalaku pening: aku harus keluar.
Di sanalah Ia, lelaki tengah malam. Rambutnya gondrong, seperti semak hitam, tubuhnya kurus, terlihat jangkung padahal tidak, sebuah metafora aneh tubuh manusia. Malam itu Ia mengenakan kemeja hitam, celana jeans dan sepatu kets, Macbeth. Aku memang terbiasa mengingat detail, dan dalam kasus ini, kita membicarakan Dia, aku pasti mengingat setiap detailnya. Ia terlihat canggung, mengalihkan pandangan ke bawah, lalu bergerak menuju kawanannya:lelaki-lelaki gondrong lainnya, syukurlah bukan perempuan bertubuh molek. 
Aku sendiri, menunggu waktu yang tepat untuk mendekatinya. Dia memang menarik, amat. Tengah malamku ini bersamanya, sepatah dua patah kata terucap, mencairkan suasana yang sebelumnya beku: kawan lama yang bertemu lagi, dalam suatu kebetulan. Kadang aku berharap kita ada tanpa kebetulan, saling berkata rindu kemudian bertemu terdengar mengasyikkan. Namun ada satu hal yang kupelajari dari hidup: jangan berharap suatu hal yang tidak pasti. Ruangan ini terbilang luas dan berbentuk kubus, namun lagi-lagi aku berharap ruangan ini menyempit, menyisakan kita yang berdesakan sehingga kulitku menyentuh kulitmu, sehingga bibirku dekat bibirmu, sehingga aku jatuh dalam dekapmu (Hukum saja dirimu yang membuatku gila, hukum saja! Jangan salahkan aku)
"Hai," sapaku.
Senyum terus menggantung di wajahku, sejenak kutemukan Kamu lagi. Kata-kata klise dan romantis bermunculan di otakku, aku memang lemah jika dekat Kamu, sayangnya tak satu pun terucap. Aku tak punya nyali dan bukankah itu tugas lelaki untuk memulai? Malam itu kami berdiam, berdekatan tapi tak saling berkata. Dia ada, di sampingku. Aku juga di sana, tapi entahlah, pikiranku menghambur. Dari sejak lama, bertemu dengannya menjadi suatu kebahagiaan yang tajam, yang menyakitkan. Ia tidak berbuat apapun di masa lalu, namun akulah biangnya. Aku yang membiarkan rasa ini tumbuh dan mengeras, memenuhi relung hatiku dengan bongkahan tajam, seperti kolesterol yang tersesat di aorta, menyumbat, membuatmu sakit. Tapi Ia tidak berbuat apapun, tidak ada ruang untuk sebuah cinta sepihak yang terpendam.
"Aku bersama seseorang," sebuah mantra mengalun dari bibirnya, mantra penolak bala.
"Siapa? Maksudku, siapa wanita yang beruntung itu?" susah payah kupasang senyuman tulus. Ia pun menunjuk seorang wanita: mungil, berwajah bulat kekanakan, berambut pendek dengan baju terusan putih yang sama mungilnya dengan tubuhnya.
"Pilihan yang tidak terlalu bijak," jawabku sambil menyesap gelas kecil berisi cairan putih. Ia terdiam.
'Maksudku, dari semua wanita yang kau ceritakan dulu: gadis sempurna, cantik, modern, modis dan berkelas yang selalu jadi tipemu.. dan ya, bisa aku katakan gadis ini... berbeda,"
"Benar, Nyonya-Tahu-Segalanya, dan apakah itu sebuah kesalahan, karena aku memilih wanita yang berbeda dari.. Oh, yang pernah aku ceritakan?" Ia bertanya, dengan nada sarkas yang kental.
"Bukan, Tuan, bukan suatu kesalahan. Tapi satu hal menjadi jelas di sini. Kamu adalah pembual, dan semua hal yang aku percaya tentang kamu adalah kebohongan," kataku sambil  pergi meninggalkannya dan ekspresi bingung bercampur marah yang tersisa di wajahnya.
Pembual. 
Semua hal yang dia ceritakan hanya bualan. Lima tahun aku terdiam dan setia mendengarkan bualan? Aku pasti sudah hilang akal. Lima tahun aku mencintai seorang pembual yang menolakku hanya untuk wanita macam itu. Gilanya lagi, selama ini Ia berkata bahwa hanya akan mencintai wanita dari kelas atas, yang dapat disingkat: Wanita-yang-Bukan-Aku! Bulan-bulan dihidupku kuhabiskan untuk menjadi wanita yang Ia mau dan, kejutan, Ia memilih wanita biasa, wanita yang... sangat biasa. Sungguh, pagi ini Tuhan mengingatkanku untuk bangun  dari mimpiku tentangnya dan tidak saling mengenal lagi.
*****
Wanita itu, Ia kenapa, sih?
Pembual? Aku bukan pembual dan sama sekali tidak paham apa yang Ia bicarakan. Aku rasa mencintai seorang wanita tidak melulu harus terpaut tipe: aku bebas mencintai siapapun. Memang benar, dulu aku mengidamkan wanita cantik, modis dan modern seperti yang Ia bicarakan, tapi, hey! Tuhan pun tahu sulit memiliki wanita macam itu, wanita macam Ia. 
Sudah lama aku mengamatinya, teman lamaku yang menjelma menjadi wanita hebat yang... sempurna. Aku sendiri tidak punya nyali untuk mendekatinya, Ia terlalu baik untukku, dan mungkin ini yang terbaik untuknya, Ia pantas mendapat yang sama baiknya dengan Ia. Malam kini berganti pagi, saatnya kembali. Saatnya bangun dan berpisah, saatnya tidak saling mengenal lagi. 

Rabu, 21 Mei 2014

Beauty

To me, beauty is about being comfortable in your own skin. It's about knowing and accepting who you are
 Ellen Degeneres

Sabtu, 26 April 2014

Aneh: Cara Saya Melihat Dunia


Saya menulis ini, karena saya yakin tidak akan ada yang membaca postingan ini, karena saya tahu kehidupan saya tidak semenarik itu untuk dibaca.
Menilik ke belakang, saat saya berumur 13an tahun, saya merasa menjadi gadis yang periang dan memiliki segalanya, di usia yang masih belia saya paham akan arti kehidupan dan kini saya kehilangan semua pegangan saya. Bukan, saya bukan mau mengeluh, saya hanya bercerita.
Semakin ke sini, saya melihat kehidupan (sosial khususnya) menjadi sesuatu yang kompleks dan tidak saya pahami. Saya tidak paham bagaimana orang lain menyakiti yang lain agar mendapat penghargaan, bagaimana seorang bertubuh kekar menyakiti anak kecil berumur tiga tahun, yang.... sangat tidak adil. Lihat saja perbedaan besar tubuh mereka. 
Saya bingung, mengapa Tuhan menaruh saya di dunia yang kejam, dan saya tidak dapat berbuat apa-apa?
Semakin ke sini saya merasa, pikiran saya tak ubahnya seorang anak autis yang melihat dunia dengan cara sederhana, dan seharusnya remaja perempuan berumur hampir 18 tidak memikirkan hal ini. Tidak memusingkan hal ini. Saya harusnya memikirkan bagaimana cara berdandan dan mengenakan baju yang pantas (ya, saya memikirkan ini) tapi ada hal yang lebih menggelitik saya. Kehidupan itu sendiri.
Saya ingin merubah dunia, tapi saya sadar saya hanya bermulut manis dan pendek akal, saya hanya mampu berpikir, bukan melaksanakannya. Saya butuh orang lain yang sepemikiran dengan saya untuk saling mendukung, tapi sayangnya hal itu hanya berakhir menjadi deskripsi panjang yang sedang Anda baca.

Crap, i'm totally weird. Saya merasa terlalu banyak mengeluh tentang kehidupan, yang sebenarnya indah. Ya, indah untuk saya, tapi tidak orang lain. Sejak awal saya yakin, saya tercipta untuk suatu alasan, dan saya akan terus mencari alasan itu dan mewujudkannya. Saya akan belajar dan menamatkan sekolah saya dengan benar. Saya akan membangun suatu lapangan pekerjaan di mana orang lain dapat meraup rizki dan tidak perlu menyakiti orang lain.

Tapi bagaimana pun, kejahatan tetap ada, seterang apapun itu, pasti ada bayangan yang menaungi, kecuali bila ruangan itu kosong, tapi sayangnya dunia tidak kosong. Oke, saya lahir untuk suatu alasan. Saya tidak akan menyerah hanya karena sebagian otak saya yang masih logis mengatakan saya aneh dan berbeda. Saya tidak akan menyerah

Menjadi Diri Sendiri

Menjadi diri sendiri.
Showing your own self, truly.

Jika ada yang memerintahkan saya untuk melakukan hal itu, saya akan terdiam dan bingung. Harus seperti apa, saya?
Menurut saya menunjukkan bagaimana pribadi kita sejujurnya bukanlah perkara yang mudah. Saya saja bingung bagaimana menjadi diri saya, sementara saya tidak tahu 'memang saya tuh bagaimana, sih?' 

Jujur, saya orang yang mudah membaca orang lain (tapi teramat susah mengenali diri sendiri) oleh karena itu saya mudah influenced dengan pandangan hidup orang lain-yang menurut saya keren dan benar, visi mereka, dan bodohnya semuanya saya terima mentah-mentah tanpa disaring terlebih dahulu.
Saya dekat dengan banyak orang, dan saya menyugesti diri sendiri bahwa saya sama dengan mereka. Bukan, saya tidak mau sama dengan mereka, tapi tubuh saya secara otomatis mengatur sistem yang sedemikian rupa, bahwa saya adalah dengan siapa saya bergaul.
Itu adalah hal aneh, mengingat bayi kembar saja tidak 100% identik. Saya merasa hilang. Saya dapat seketika itu berubah, dan saya berakhir menyesali pikiran dan tindakan saya yang menurut saya 'duh,bukan saya banget.'
Saya baru menyadari hal ini saat saya sendirian, dan saya merasa telah melakukan hal yang teramat bodoh.
Saya, adalah sesuatu yang saya ciptakan dan saya harapkan. Saya adalah apa yang saya perjuangkan, apa yang saya yakini. Saya bukanlah pikiran orang lain. Saya bukanlah harapan mereka. Saya adalah saya, bukan orang lain- sepertinya ini yang harus saya cermati lamat-lamat. 

Sabtu, 19 April 2014

Review Suspiria (1977) movie

Pecinta horror klasik pasti udah tidak asing dengan judul yang satu ini. Yap, Suspiria. Film Italia karya Dario Argento ini emang masuk best horror movies all the time versi banyak blog-tidak terkecuali di blog saya.

Mengangkat cerita tentang akademi balet di Jerman, membuat film ini menjadi salah satu film klasik yang classy (hanya pecinta horror klasik yang paham, i bet) 
Lima belas menit pertama benar-benar memacu adrenalin saya (saya suka scoringnya, naikin detak jantung banget!) good job buat gore scene-nya, saya suka! Tapi sayang, darahnya kurang realistis (kayak pernah liat darah muncrat aja lo, Hil) 
To be honest, saya suka banget kesan artistik dan classy (but also dark in one perfect mixture) yang dibuat sang direktor, Dario Argento. Awalnya saya kurang paham film ini mau dibawa ke mana arahnya (mungkin karena saya fokus pada tarian balet, aksen yang lucu, dandanan ala 80'an yang dihadirkan secara menarik di film ini) Ghosts? Serial killers?.... wait, what, Witch?! Yap, ternyata Suspiria membawa kita ke sebuah akademi Balet terkenal di Jerman yang punya masa lalu yang kelam.... tentang sihir.

Pokoknya, jangan pernah ngaku pecinta horror klasik kalo belum nonton Suspiria. Walaupun endingnya kurang greget (ya, klise seperti horror klasik pada umumnya) tapi film ini tetap layak untuk ditonton sekaligus pengisi liburan. Good Job Dario Argento!