Kamis, 17 Mei 2018

Negosiasi

Hai! Sudah lama ya tidak berjumpa dengan si Sunflower yang happy ini a.k.a me...
If we talked about my life.. yeah it's been wonderful. Aku memiliki beberapa pengalaman yang menurutku langka dan berkesan. Oke, akan aku coba merangkumnya dalam kalimat-kalimat yang selanjutnya akan kalian baca. Aku mulai dari yang sequence waktunya paling kini sampai paling lampau ya.

First....
Aku sudah unofficially S.Farm!!! Pendadaranku terlaksana ditanggal 3 April 2018 (untung bukan 1 April ya, nanti aku ngira pertanyaan dosennya bercanda). I'm so happy and proud of myself.... Setelah balada datang jam 6.30 pulang jam 16.30 terlewati, setelah menghadapi pasang surut sebagai seorang peneliti ekstrak kulit buah manggis... Rencananya aku bakal wisuda 23 Mei 2018 di Grha Sabha, doakan semoga lancarđź’—

Second....
Si Hilda yang sensitif ini mulai mengembangkan sayap ke-organisasi-an. Aku diamanahi untuk jadi Koordinator Eksternal F*rmasi Cup 2016. Suatu hal yang baru mengingat di SMP jadi ketua osis Immac*lata dan di SMA jadi koordinator lapangan MPK P*dmanaba. Kenapa baru? Karena... aku belum pernah berurusan dengan uang sebelumnya *cry* Di event ini aku terbukakan matanya. Terbukakan means bukan aku yang membuka, tapi keadaan yang membuatnya terbuka. 
Well, ternyata ada satu seni yang belum pernah aku pelajari sebelumnya... Ya, negosiasi. Kalian pembaca mungkin bertanya-tanya, katanya dari SMP udah aktif, kok ga pernah nego? Hmm, kalau boleh jujur, aku sama sekali buta soal nego. Aku pikir negosiasi itu sempit, seperti tawar-menawar harga. Ternyata aku salah, teman-temanku... Negosiasi yang baru saja aku pelajari adalah bagaimana kita untung tapi lawan bicara kita ga sadar kalau dia rugi. Seninya di situ guys, dan aku pribadi susah banget untuk melakukannya. Ternyata itu penting lho. Negosiasi adalah cara kita untuk menyampaikan maksud kita kepada orang lain, agar tujuan kita terpenuhi. Si orang lain ini harus mendukung tujuan kita juga guys hehe, ya seperti membujuk lawan jenis untuk mau pacaran ma kita lah (lho!)
Aku sebenernya juga belum punya tips and trick gimana cara negosiasi yang baik. Cuma emang negosiasi yang paling enak adalah saat kita sama-sama di level yang sama, emang enak sih mendominasi, tapi ga enak didominasi. So, buatlah lawan bicara kita senyaman mungkin (kita juga harus nyaman ma diri kita sendiri sebelumnya) alias kudu PD, jangan biarkan lawan mendominasi kita. Terkadang saat kita membuat nyaman lawan bicara, itulah saat kita bisa melakukan negosiasi dengan ciamik. So, gimana pengalaman negosiasimu? Udah pernah mengalami negosiasi yang menguntungkan, belum?

Jumat, 28 April 2017

A-normali

Tombol keyboard hitam yang memanggilku kini menang. Ya, menang. Mereka membuatku kembali. Sebelum ini aku banyak terdiam, tak terlalu jelas apa yang kulakukan. Makan, mandi, membaca catatan kuliah, berkumpul bersama kawanan. Lima puluh persen menatap layar handphone, mungkin; menjadikanku tidak produktif. Aku ingin.. banyak hal. Namun yang kulakukan? Nol besar.
Aku ingin berdiri di atas kakiku, namun selama ini aku memijak sebuah bayangan.
Aku ingin menjadi pohon yang tumbuh dan berbuah, namun ternyata mandul
Aku ingin..... berkata sesungguhnya aku benci mencari alasan atas ketidakberhasilanku.

Aku gagal, karena aku. Aku berhasil juga karenaku. Kuakui ada kekuatan yang jauh lebih besar menyelimutiku namun kuyakin Ia baik. Ia menjagaku.

Selama ini aku hidup dalam ketakutan bahwa masa depan tak sebaik yang kuingin. Masa ini menjenuh dan berjalan lambat, menyisakan aku yang terdiam dan bertanya. Aku bingung, siapa aku? Cukup kuatkah aku untuk menjadi baik? Selentingan sana sini mengoyak dan memincangkan, apalagi keluar dari mulut yang tersayang. Adakah yang bisa menjelaskan, dari sisi mana sayang itu mengoyak?
"Kamu mengecewakan,"
"Kamu bisa lebih baik dari ini"
Kamu ini kamu itu
Memangnya kalian orang terbaik di sini? Kritiklah aku sesukanya, aku tidak makan dari mulut kalian! Ingin aku berkata seperti itu. Namun tidak bisa, kalian berharga untukku. Cinta yang membuat aku lemah, akankah cinta sebaliknya? Kapan cinta menguatkan, ya, cinta Ibuku menguatkan. Aku tidak akan mencintai orang yang melemahkanku, kuingin menjadi abnormal yang membuat kalian menganga.
Diriku yang dulu, aku tahu kamu akan kembali. Seperti biasa, kutetap menunggumu sampai hitungan ke sepuluh; dan kuyakin kamu kembali, membantuku mengubah dunia.

Hilang

Senyap
Lenyap
Ke mana tubuh ini akan membawaku
Menembus angin yang mulai membeku

Makanan terasa anyap
Tak peduli nafas yang mulai pengap
Di mana kamu, yang dulu?
Yang muncul dan mencegah jalan buntu

Aku butuh kamu, Hilda yang yang tegap
Yang berdiri kokoh saat aku terhenyak
Aku butuh kamu, diri ini mulai rapuh
Ke mana kamu pergi, setelah masa-masa sulit berlalu

Diriku merindu
Si pemilik hati pilu
Setengah diriku menunduk
Mencari diriku yang dulu


Yogyakarta, 28/4/17
Sang pujangga mulai menulis lagi

Selasa, 21 Juni 2016

Do You Ever Feel...

Do you ever feel like a plastic bag
Drifting through the wind, wanting to start again?
Do you ever feel, feel so paper thin
Like a house of cards, one blow from caving in?



Sepenggal lirik dari lagu firework milik katy perry
Sometimes aku merasa seperti tas kresek (jelek banget ya kalau di translate...) ya, ringan.. ga berisi apa-apa.. gerak pun karena angin yang meniup. Tidak punya kekuatan untuk melawan arus.
Kamu percaya kamu plastic bag, atau orang lain yang mengatakannya?
Sometimes people around you try to smack  your dream, push you to your lowest level of life and leave you when you got nothing. So, what will you do? Give up? Or keep your chin up? 


Bicara tentang tas kresek,
Pernah berpikir ga sih kalau tas kresek itu material paling basic dari suatu plastik? Bentuk paling sederhana yang bisa dibuat dari plastik.
That means.. sebetulnya plastic back yang dimaksud itu bisa berpotensi dirubah jadi suatu mahakarya yang maybe beyond expectation.

I believe it. God makes us alive for a proper destination. Don't worry about people, they can bleed. You must pay attention to yourself, bisa kah kamu think bigger dan merubah plastic bag menjadi sebuah mahakarya? 

I've a story. 
Dua kembar identik dibesarkan di dua lingkungan yang berbeda. Kembar pertama dibesarkan di lingkungan yang selalu memuji hasil karyanya, alhasil ia menjadi seniman pahat kayu tersohor.
Kembar kedua dibesarkan di lingkungan yang kurang menghargai seni. Ia diarahkan menjadi sesuatu yang lebih scientific, dipaksa menempuh pendidikan konvensional membuatnya terpaksa drop out.

See? Bagaimana pandangan orang merubah hidup kita. Tapi coba kita balik dengan kalimat: bagaimana dirimu sendiri, secara sadar, membiarkan orang lain membuatmu percaya bahwa kamu tidak lebih dari plastic bag.

We have belief we remain to believe. Kita punya free will untuk mempercayai apapun yang kita mau. So, mulai dari sekarang latihlah dirimu untuk percaya bahwa hidupmu adalah bagian dari mahakarya Tuhan dan diciptakan untuk tujuan yang baik. You are undoubtedly special, dan tidak ada orang yang dapat mengatakan sebaliknya :)


Kamis, 19 November 2015

Pekat

Minggu ini minggu yang berat untukku. entah mengapa semua berjalan lambat, seperti alunan fur elise dari beethoven. Jika kalian pernah mendengarnya, pasti akan paham dengan maksudku. Lambat, tapi mencekam. 
Ingin keluar aku dari jeratnya, namun kubertahan. Berakhir di sinilah aku, berjalan walau terseok di tajamnya aspal kehidupan.

Siang itu, seperti biasa aku masih terduduk di kursi bagian belakang. Tertunduk, mencatat melodi-melodi indah yang dialunkan. Yang lain sibuk bercanda tawa berbarengan, tanpa aku. Di situlah perasaan ini mulai menyeruak. Hitam, pekat, merasuk mulai dari tengkuk hingga ke ubun-ubun. Gelap, sendirian. Tak ada yang sudi tuk jadi percikan, warna-warna mulai memudar, meninggalkanku dalam kepekatan. Aku sendirian, namun kucoba abaikan semua. Dan di sinilah aku, masih mencatat melodi-melodi indah yang dialunkan.

Kamis, 23 April 2015

Sekelumit cerita

Rasa sayang.
Buatku, menyayangi seseorang bukanlah hal yang mudah. Memang aku gampang terkagum akan pesona seseorang, aku mudah menyukai kebaikan seseorang. Namun untuk perasaan, adalah hal yang sulit untuk membuka diri.
Menyayangi adalah suatu kebahagiaan, namun aku sadar bahwa siap menyayangi berarti siap kehilangan. Siap merelakan.
Banyak sekali keraguan di hidupku, dan aku sadar aku terlampau tua untuk dinasihati terus menerus.
Aku menyayangi seseorang yang tidak akan mungkin menjadi bagian di hidupku. Seseorang yang tidak mungkin jadi nahkoda untuk bahtera hidupku. Aku menyayanginya, aku ingin membuatnya menjadi lebih baik. Aku ingin hidupku berguna untuknya. Namun sayang, keraguan mengalahkan semuanya. Aku berhenti mengejar karena kutahu, aku memperjuangkan sesuatu yang tidak memiliki masa depan. Aku memperjuangkan sesuatu yang malah akan membuatku jatuh pada kebimbangan yang lebih dalam.
Dan aku tahu, bahwa merelakan lebih sulit dibanding mengejar. Sekali lagi; Merelakan itu sulit. Namun aku berusaha mencari mana dari kejadian ini, mencari apa yang ingin Tuhan sampaikan padaku. Karena aku tahu, Tuhan punya sesuatu yang indah dibalik ini. Tuhan ingin aku belajar sesuatu dari peristiwa ini. Tuhan mempertemukan kita bukan tanpa alasan. Dan aku harus mencari alasannya....