Jumat, 23 Agustus 2019

Totalitas

Menjadi pribadi yang "all-out" adalah suatu tantangan untukku. Telah lama aku terkungkung di dalam cangkang ketakutan- takut memberikan yang terbaik, takut berbuat sesuai kata hatiku dan ketakutan-ketakutan lain.

Sebelum ini aku seakan melemparkannya kepada Tuhan- ah ada Tuhan, mengapa aku takut? Kemudian secara tidak langsung menyakiti diriku dengan berkata: imanmu kecil banget, Hil. Ini kan sudah jadi issue sejak dulu, mengapa tidak tuntas? Mengapa masih saja ada? Tapi aku sadar Tuhan tidak ingin aku menyalahkan diri.

Semenjak aku merenung lebih dalam tentang ketakutan-ketakutanku, dan berusaha mencari akar masalahnya, bertemulah aku dengan si hati kecil yang selama ini mencoba jujur, namun kupatahkan dengan ego dan "ke-aku-anku."

Dia berkata: aku takut tersakiti, aku takut segala hal yang kulakukan sia-sia. Selama ini aku berusaha mengatakannya,tapi kamu selalu saja membantahnya dan berpura-pura tidak mendengarku. Merasa dirimu kuat, merasa dirimu bisa berbuat sesuatu, dan menumpuk ketakutan tanpa menyelesaikannya. Sekarang aku datang dan kamu sudah tidak bisa mengelak- akhirnya kamu mendengarkanku juga!

Benar. Selama ini aku menutupi ketakutanku, berusaha mengeraskan hati dan memakai kaca mata kuda, seolah kegagalan bukanlah opsi untukku. Itulah sebabnya aku selalu bermain aman dan kurang mengeluarkan sisi terbaikku.
Kini aku mengakui, aku takut tersakiti. Siapa yang tidak takut, coba? Aku berusaha menerima diriku yang rapuh, sisiku yang sejak lama aku pendam, dan memilih untuk menyelesaikannya.

Mengapa kamu takut? Tidak apa, kita akan jalani semua ini bersama. Kegagalan adalah opsi semua orang, kamu tidak bisa serta-merta menghilangkannya. Menjadi gagalah, agar kamu tahu nikmatnya berhasil. Lakukanlah segala hal dengan penuh totalitas- setidaknya kamu sudah melakukan yang terbaik yang kamu bisa. Berbuat dan berkatalah dengan jujur- akui kelemahanmu, akui kekurang-pengalamanmu sambil terus berkembang dan mempelajari hal yang baru. Tidak apa, semua orang pernah gagal, semua orang pernah terluka. Lebih penting lakukan yang terbaik dengan sungguh-sungguh, berbuat baik tanpa pamrih, menyelesaikan tugas dengan baik dan penuhilah ekspektasimu. Selagi muda cobalah tantangan-tantangan baru, keluar saja dari zona nyaman.

Hari ini dan detik ini, aku memperbaiki semuanya. Merangkul sisi hatiku yang selama ini aku abaikan, mengajaknya untuk menyelesaikan tantangan-tantangan menarik yang muncul di perjalanan hidupku. Membujuknya all-out dan  optimis. Menjadi pribadi antusias yang tidak takut gagal, toh yang penting caraku bangkit, kan, bukan gagalnya?

Pengalamanku mengajarkan, menjadi orang yg bersikap "minimalis" (tidak mau rugi, tidak berkomitmen, dan tidak bersungguh-sungguh) akan meninggalkan penyesalan di kemudian hari. Rasa sesal karena melakukan sesuatu di bawah potensiku yang sebenarnya, rasa sesal karena tidak menjadi berkat untuk sesama. Dan percayalah kawan, menyesal itu tidak enak. Lebih baik dari sekarang aku melakukannya dengan sungguh-sungguh dan all-out. Menjadi pelita untuk lingkunganku, memberikan kontribusi untuk pekerjaanku, karena aku yakin, berkat yang diberikan Tuhan akan menjadi sia-sia jika tidak kita salurkan untuk sesama.