Sabtu, 28 Juni 2014

Lelaki Tengah Malam, sebuah cerpen

Malam datang, merasuki tiap jengkal cahaya yang masih meraung, tak mau pergi. Aku datang, terduduk; setengah sadar. Kupandangi lalu lalang; orang-orang bergerak ke sana-ke mari, berpesta dalam remang cahaya pendar, ada yang menari, saling menatap. Pasangan muda melintas; pria jangkung dan wanita kecil, dan aku pun berteriak: timpang! Kuhirup oksigen lekat-lekat, udara semacam menyublim dan ruangan menyesak, kepalaku pening: aku harus keluar.
Di sanalah Ia, lelaki tengah malam. Rambutnya gondrong, seperti semak hitam, tubuhnya kurus, terlihat jangkung padahal tidak, sebuah metafora aneh tubuh manusia. Malam itu Ia mengenakan kemeja hitam, celana jeans dan sepatu kets, Macbeth. Aku memang terbiasa mengingat detail, dan dalam kasus ini, kita membicarakan Dia, aku pasti mengingat setiap detailnya. Ia terlihat canggung, mengalihkan pandangan ke bawah, lalu bergerak menuju kawanannya:lelaki-lelaki gondrong lainnya, syukurlah bukan perempuan bertubuh molek. 
Aku sendiri, menunggu waktu yang tepat untuk mendekatinya. Dia memang menarik, amat. Tengah malamku ini bersamanya, sepatah dua patah kata terucap, mencairkan suasana yang sebelumnya beku: kawan lama yang bertemu lagi, dalam suatu kebetulan. Kadang aku berharap kita ada tanpa kebetulan, saling berkata rindu kemudian bertemu terdengar mengasyikkan. Namun ada satu hal yang kupelajari dari hidup: jangan berharap suatu hal yang tidak pasti. Ruangan ini terbilang luas dan berbentuk kubus, namun lagi-lagi aku berharap ruangan ini menyempit, menyisakan kita yang berdesakan sehingga kulitku menyentuh kulitmu, sehingga bibirku dekat bibirmu, sehingga aku jatuh dalam dekapmu (Hukum saja dirimu yang membuatku gila, hukum saja! Jangan salahkan aku)
"Hai," sapaku.
Senyum terus menggantung di wajahku, sejenak kutemukan Kamu lagi. Kata-kata klise dan romantis bermunculan di otakku, aku memang lemah jika dekat Kamu, sayangnya tak satu pun terucap. Aku tak punya nyali dan bukankah itu tugas lelaki untuk memulai? Malam itu kami berdiam, berdekatan tapi tak saling berkata. Dia ada, di sampingku. Aku juga di sana, tapi entahlah, pikiranku menghambur. Dari sejak lama, bertemu dengannya menjadi suatu kebahagiaan yang tajam, yang menyakitkan. Ia tidak berbuat apapun di masa lalu, namun akulah biangnya. Aku yang membiarkan rasa ini tumbuh dan mengeras, memenuhi relung hatiku dengan bongkahan tajam, seperti kolesterol yang tersesat di aorta, menyumbat, membuatmu sakit. Tapi Ia tidak berbuat apapun, tidak ada ruang untuk sebuah cinta sepihak yang terpendam.
"Aku bersama seseorang," sebuah mantra mengalun dari bibirnya, mantra penolak bala.
"Siapa? Maksudku, siapa wanita yang beruntung itu?" susah payah kupasang senyuman tulus. Ia pun menunjuk seorang wanita: mungil, berwajah bulat kekanakan, berambut pendek dengan baju terusan putih yang sama mungilnya dengan tubuhnya.
"Pilihan yang tidak terlalu bijak," jawabku sambil menyesap gelas kecil berisi cairan putih. Ia terdiam.
'Maksudku, dari semua wanita yang kau ceritakan dulu: gadis sempurna, cantik, modern, modis dan berkelas yang selalu jadi tipemu.. dan ya, bisa aku katakan gadis ini... berbeda,"
"Benar, Nyonya-Tahu-Segalanya, dan apakah itu sebuah kesalahan, karena aku memilih wanita yang berbeda dari.. Oh, yang pernah aku ceritakan?" Ia bertanya, dengan nada sarkas yang kental.
"Bukan, Tuan, bukan suatu kesalahan. Tapi satu hal menjadi jelas di sini. Kamu adalah pembual, dan semua hal yang aku percaya tentang kamu adalah kebohongan," kataku sambil  pergi meninggalkannya dan ekspresi bingung bercampur marah yang tersisa di wajahnya.
Pembual. 
Semua hal yang dia ceritakan hanya bualan. Lima tahun aku terdiam dan setia mendengarkan bualan? Aku pasti sudah hilang akal. Lima tahun aku mencintai seorang pembual yang menolakku hanya untuk wanita macam itu. Gilanya lagi, selama ini Ia berkata bahwa hanya akan mencintai wanita dari kelas atas, yang dapat disingkat: Wanita-yang-Bukan-Aku! Bulan-bulan dihidupku kuhabiskan untuk menjadi wanita yang Ia mau dan, kejutan, Ia memilih wanita biasa, wanita yang... sangat biasa. Sungguh, pagi ini Tuhan mengingatkanku untuk bangun  dari mimpiku tentangnya dan tidak saling mengenal lagi.
*****
Wanita itu, Ia kenapa, sih?
Pembual? Aku bukan pembual dan sama sekali tidak paham apa yang Ia bicarakan. Aku rasa mencintai seorang wanita tidak melulu harus terpaut tipe: aku bebas mencintai siapapun. Memang benar, dulu aku mengidamkan wanita cantik, modis dan modern seperti yang Ia bicarakan, tapi, hey! Tuhan pun tahu sulit memiliki wanita macam itu, wanita macam Ia. 
Sudah lama aku mengamatinya, teman lamaku yang menjelma menjadi wanita hebat yang... sempurna. Aku sendiri tidak punya nyali untuk mendekatinya, Ia terlalu baik untukku, dan mungkin ini yang terbaik untuknya, Ia pantas mendapat yang sama baiknya dengan Ia. Malam kini berganti pagi, saatnya kembali. Saatnya bangun dan berpisah, saatnya tidak saling mengenal lagi. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar